Pelajaran Hidup di Kawah Ijen

7:05:00 AM

Kawah Ijen memang menyimpan sejuta pesona, mulai dari memburu fenomena blue flame atau api biru yang konon katanya hanya terdapat 2 di dunia yaitu di Islandia dan di Kawah Ijen, Indonesia. Indonesia memang tidak pernah cukup untuk di jelajahi, pelajaran hidup di dalamnya tidak pernah habis untuk di maknai.
Gue selalu percaya selalu ada pelajaran baru di setiap perjalanan, "from travel i learned". Memutuskan untuk memburu api biru di tengah malam, dan menikmati sunrise di balik Kawah gunung terbesar di pulau Jawa adalah tujuan trip gue pada Desember, 2013.
Kereta Sri Tanjung dr Yogya pukul 07.30.
Pergi dari Jogjakarta mengunakan kereta ekonomi Sri Tanjung menuju Gubeng, Surabaya. Dilanjutkan dengan menyewa mobil avanza untuk kemudian Road Trip menuju Banyuwangi. Personil kali ini gue cewe sendiri dengan 5 sahabat-sahabat yang membuat perjalanan gak pernah terasa membosankan.

Perjalanan darat dari Surabaya menuju Kawah Ijen memakan waktu tujuh jam, kita sampe tepat di basecamp Kawah Ijen pukul 00.00 tengah malam.

Melewati kecantikan lampu kerlap kerlip pusat pembangkit listrik paiton untuk supply listrik se-Jawa di Situbondo, mungkin ini udah puluhan kalinya gue lewat ini, waktu kecil gue dan bokap sering banget Road Trip Jakarta-Bali menggunakan mobil. Tapi paiton masih belum kekurangan pesonanya, masih tampak seperti markas power ranger haha.
suasana betapa berantakkannya di dalam mobil. secara cowok semua, oke kayanya semua setuju gue juga dianggap cowo hahaha.
Perjalanan trekking ke kawah Ijen dimulai 1 jam setelah kita sampai di parkiran mobil yaitu pukul 01.00 dini hari. Jalan langsung dimulai dengan jalan naikkan dengan tekstur jalan berpasir, selalu diingatkan oleh sang guide, untuk harus selalu mendahulukan para penambang lewat, jadi kita harus minggir kalau ada penambang lewat.

Gue belum ngerasa terkesan oleh para penambang yang setiap harinya mengangkut beban 80-100 kg dan biasanya sehari dua kali bolak-balik ini.

Belum, karena gue belum ngerasa trekking itu masih panjang jalannya. Sepanjang jalan, jalanan terus naik, belum tidur, iya kita semua belum tidur dan langsung trekking pagi-pagi buta.Tapi mengeluh bukanlah satu jalan keluar. Setapak demi setapak hingga akhirnya kita sampai di mulut kawah 2,5 jam setelahnya.

"Mana api biru nya ?" tanya gue
"itu api biru nya" jawab guide
"ya ampun, jauh banget !" gue komplain
"iya kita masih harus turun ke bawah kawah kalau mau lihat dari deket" jawab guide.

pemburuan blue fame, trek jalanan bebatuan licin.
Gue pikir perjalanan berakhir sampai mulut kawah, karena gelap, gue hanya mendengar disana banyak banget orang yang udah pada duduk-duduk santai. Ternyata kebanyakan dari mereka tidak melanjutkan turun ke bawah karena gak kuat. Sayang banget, kalo gue sih gak mau rugi, tewa-tewas sekalian hehe.
karena gue cuma bawa iphone yg gak bisa ambil gambar blue flame yg bagus, jd kira2 kaya gini api biru di kawah ijen yang gue liat dengan mata telanjang. sumber : https://c2.staticflickr.com/8/7410/9136763539_21e6ea3cc4_z.jpg

sulfur belerang kawah ijen
Satu jam untuk bisa sampai berdiri dengan jarak 5 meter dari api biru, gue yang masih penasaran dan sepanjang jalan bercanda sambil bilang "yaelah mau liat api biru aja sampe begini susahnya, liat aja di kompor".Tapi fenomena api biru memang mengesankan. Beruntung kita sampai tepat waktu, karena setelah jam 4 keatas api biru sudah tidak terlihat.
ketiduran di atas batu, paling kiri dimas, gue dan hanif di tengah, yang pake sarung ucup haha :)
Disana gelap, gue, dimas, hanif, ucup yang udah gak tahan ngantuk dengan sembarangan aja tidur di batuan pojok, udah gak mikir mau masuk angin apa engga, karena gue ngantuk banget dan satu lagi kedinginan !
Kawah Ijen pukul 05.30

Bangun tidur gue tercengang pas ngeliat ke atas, gue berasa ada di dunia lain, "Damn !! i feel like i was in another world" berada pada lingkaran besar yang dalam. Dan satu hal yang paling gue pikirkan, ternyata semalem gue turun tinggi banget.

trek turun ke kawah, bebatuan, licin, gelap.
bangun tidur pas terang langsung take photo team.


Belerang terhembus ke arah sebaliknya dari kawah yang berwarna hijau tosca, kita beruntung, karena danau kawah terlihat begitu jelas dan indahnya.






Melihat di setiap sudut, para penambang menembus asap belerang untuk mencari sulfur yang akan di supply ke perusahaan pembuat kosmetik. Sulfur belerang di Ijen memang berbeda, warnanya kuning, uniknya dari bentuk cair, kalau dimasukan air bisa langsung keras.


Gue bertanya "sampe kapan mau menambang pak?" "sampai badan sudah tidak mampu" gue berharap ada satu jalan lain untuk para penambang bisa mengangkut belerang yang setiap harinya mereka bopong seberat 200 kg itu. Seperti contoh di dieng, para warga berinisiatif menggunakan tali untuk menyebrangkan sayuran yang harus diambil dari lembah yang terdalam.

Iya pelajaran hidup baru gue temuin disini, ketika gue ngerasa menyerah dan cuma bisa mengeluh, gue harus liat para pejuang tambang yang bertahan hidup berjalan 12 jam dari setiap harinya dengan mengangkut beban 200kg dan hanya di beri upah 700 rupiah per kilogramnya.

Kawah Ijen masih menjadi "the best lake crater i have ever been" mengalahkan beberapa kawah kawah lain yang pernah gue datengin dari jawa sampai NTT.
the bestfriends, the best trip partners, they who always make the laugh along the journey. Love them too much.

Lebih menghargai hidup, karena lo bukanlah satu-satunya orang yang diberikan hidup yang tidak adil oleh Tuhan. So be grateful of your life from now on :)


Notes :
Kereta Sri Tanjung Yogyakarta-Surabaya = 50.000/orang
Sewa mobil Avanza 3 hari 2 malam = 550.000/mobil
Bayar guide sukarela di kawah Ijen = 100.000/guide

Tips :
- Bawa masker karena kita akan banyak menembus asap-asap belerang yang kental.
- Bawa aqua karena sehabis trekking kita akan meraa lelah dan gak ada yg jualan diatas !




cheers,
Kadekarini :)

You Might Also Like

0 comments