Menyapa Sang Raja Yogyakarta, Gunung Merapi 2968 mdpl

6:56:00 AM

Selama 4 tahun, pagi saya selalu rutin di sapa oleh sang Raja dari kota Yogyakarta. Terlahir dan besar di perkotaan, saya tumbuh menjadi pribadi yang realistis, tidak pernah menelan matang-matang sebuah mitos, terlena pada kemegahan gaya hidup metropolitan.
 
Lima tahun lalu, saya hanya gadis perantau yang pergi menimba ilmu di sebuah Kota yang sekarang menjadi satu-satu nya kota yang saya kagumi, dan selalu ada di dalam "kamus" kangen saya. Lima tahun lalu, saya hanya seorang pendatang baru di kota asing di lingkaran orang-orang asing. Lima tahun lalu, saya hanya seorang maba yang setiap paginya berangkat ke kampus untuk mengikuti masa orientasi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Namun satu yang tidak pernah absen menemani semua perjalanan saya, yang selalu meyambut pagi saya berangkat ke kampus, yang selalu menyapa sore saya di perjalanan mencari makan malam, dan yang selalu saya kagumi hingga sampai saat ini. Sapa saya untuk puncak Gunung Merapi, the king of Yogyakarta.

Mungkin bisa di bilang ini adalah "dream comes true" saya yang ke sekian kalinya. Seorang manusia yang selalu di sapa oleh gagahnya sang Merapi, tapi hanya berani membalas sapaannya dari bingkai jendela, atau bingkai kamera. Tapi yang pasti kekaguman saya atas gagahnya sang Raja Yogyakarta tidak pernah pudar, hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapanya dari dekat, tidak lagi menikmati rautnya dari jauh tapi mendaratkan kaki di puncaknya.
Gunung Merbabu terlihat sangat dekat dari Pasar Bubrah, Merapi.
Basecamp menuju Pos I - 60 menit
Jalur pendakian Merapi yang biasa di lewati adalah jalur via new selo (Boyolali), basecamp yang sangat populer dengan signage ala hollywood nya. Kabar yang terdengar kalau trek gunung Merapi dari bawah sampai puncak menanjak terus tanpa ada bonus ternyata benar. Di perjalanan ini kita akan melewati jalur yang masih berbentuk aspal dengan ladang-ladang penduduk di sebelah kiri dan kanan nya. 
Pos I menuju Pos II - 1 jam 45 menit
Sudah tidak ada lagi trek berbentuk aspal, berubah menjadi tanah tandus yang kemiringannya semakin curam, di perjalanan ini gagahnya puncak merbabu terlihat sangat jelas disisi sebelah kanan. Merbabu tampak sangat besar dan tegap dengan balutan selimutnya yang berwarna hijau subur.
Pos II menuju Tempat Camping - 20 menit
Selepas pos II jalur pendakian sudah mulai di dominasi oleh batu-batu besar, kebanyakan para pendaki memilih mendirikan tenda di Pasar Bubrah, agar lebih dekat ketika melakukan summit attack. Namun di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah tempat yang cukup nyaman untuk mendirikan tenda, lokasinya tepat di belakang batu besar, cukup baik untuk menghalangi hembusan angin langsung, mengingat angin di gunung merapi terkenal cukup kencang.
Tempat Camping menuju Pasar Bubrah - 20 menit
Kami memulai pendakian di pagi hari pukul 05.00 pagi, walaupun hujan mengguyur semalam, tapi kami lumayan tertidur nyenyak, dan bangun pagi dengan segar dan cuaca cerah. Sampai di pasar bubrah tepat ketika sunrise mulai muncul. Ketika sampai di Pasar Bubrah, ada banyak sekali tenda, untungnya kami memilih untuk mendirikan tenda di tempat sebelumnya, gak kebayang kalau camp di Pasar bubrah, kena angin langsung pasti dingin banget.
Pasar Bubrah menuju Puncak Merapi - 1 jam 30 menit
Mungkin ini adalah salah satu memori yang tidak akan pernah hilang, mendaki puncak gunung merapi yang teksturnya penuh pasir dan kerikil. Puncaknya yang terpapar jelas di depan mata saya, dengan penampakan warna warni kecil yang ternyata adalah para pendaki. Dengan sangat sadar saya melihat puncaknya yang begitu kokoh dengan kemiringan 60 derajat. Tapi rasanya, saya tidak full sadar ketika berhasil mendaki nya hahaha. 
Diambil dari pasar bubrah, tarik nafas panjang dulu pas nengok ke atas.
Inget banget ini pas nanya sama diri sendiri "ngapain sih susah-susah kaya gini, mendingan juga nonton doraemon hari minggu"
dari bawah sampe puncak kaya gini, sambil teriak "jauh-jauh dari gue, runtuhan batu yang gue injek banyak" hahaha
Inilah perjalanan ke puncak Merapi, ysng sebelumnya sudah pernah di ceritakan, bahwa treknya cukup menyita tenaga, karena teksturnya yang berpasir, dan itu semua berhasil saya buktikan. Satu jam 30 menit yang penuh teriakan, satu jam tiga puluh menit merayap seperti layaknya spiderman yang berusaha mencari pedoman perkuatan tangan, satu jam tiga puluh menit saya melangkahkan 1 langkah naik namun merosot turun 2 langkah, satu jam tiga puluh menit yang selalu mempertanyakan "what am i doing here ?"
Kokohnya gunung Merbabu yang di selimuti kabut tipis.
Pasar Bubrah, Gunung Merapi 05.30 AM
Puncak Gunung Merapi, di sebelah kanan langsung menghadap kawah Merapi.
Kawah Merapi yang saat itu tertutup kabut.
Mungkin kalau ditanya sekarang, "gimana kemarin naik Merapi ?"  saya lupa atau tiba-tiba hilang ingatan, yang saya ingat hanyalah saya seperti berada di permukaan bulan dengan tekstur batu dan debu, saya menyaksikan sunrise yang amat sangat cantik bagai negri di atas awan, dan saya behasil berdiri di garis puncak Gunung Merapi yang langsung berbatasan dengan kawah merapi yang mendidih, hingga turun merosotkan diri di pasir puncak merapi.
Pasar Bubrah dari puncak Merapi, itu kecil-kecil pada ngerayap orang lho, keliatan ga ? i was there tho.
Udah sampe puncak, cari tempat sepi dulu buat foto selfie.
Lagi, bukanlah hal mudah untuk bisa berada di puncak gunung, dan tidak ada sebutan termahir untuk sebuah pendakian. Biarpun jam terbang saya belum cukup banyak, tapi selalu ada rasa bangga ketika saya berhasil menyelesaikan sebuah misi pendakian. Berat memang, capek pastinya, tapi disinilah tempat dimana saya merasa bangga terhadap diri saya sendiri, tersadari oleh kemampuan yang sebelumnya saya remehkan. 
Lautan awan di puncak merapi.
Keindahan pemandangan yang di tawarkan dari pendakian sebuah gunung pasti sudah banyak di ketahui banyak orang. Tapi tetap, gunung bukanlah tempat yang bisa di pandang sebelah mata. Bukanlah sebuah tempat untuk mewadahi keriangan sementara tanpa pertanggung jawaban. Bawa turun kembali sampah kalian :)


How To Get There
Alternatif 1
- Kereta Tawang Jaya Pasar Senen - Semarang Poncol (6 jam) = 65.000
- Taxi ST.Semarang Poncol - Sukun (20 menit) = 60.000
- Bus Semarang - Boyolali (2 jam)= 20.000 (di Boyolali minta turun di persimpangan menuju pasar sungkingan, kemudian di lanjutkan jalan kaki menuju pasar sungkingan sekitar 1 km)
- Di pasar sungkingan bisa carter angkot sampai ke Basecamp New Selo (1 jam) = 125.000
Alternatif 2
 Kereta Progo Pasar Senen - Yogyakarta (6 jam) = 65.000
- Sewa motor, Yogyakarta - New Selo (2 jam)



cheers,

kadekarini

You Might Also Like

0 comments