Cegah Kebakaran Hutan Kalimantan - Sumatra, Save Indonesia Forest

12:45:00 AM

Photo by www.greenpeace.or.id
Masih teringat sangat jelas peristiwa sekitar 1-2 bulan yang lalu ketika semua media sosial membahas tentang asap yang melanda pulau Sumatra dan Kalimantan. Potrait-potrait kecil yang seakan mem - blow up betapa peristiwa tersebut sangat menyayat hati. Banyak sekali saat itu yang tiba-tiba mendadak menjadi "aktivis sosial media" atau berlomba - lomba meyakinkan publik dengan mem-publish beberapa nama Perusahaan yang bersalah atas adanya kejadian ini, beberapa dengan tegas menyalahkan pemerintah karena membiarkan Perusahaan swasta tersebut mengambil alih hutan kita dengan membakarnya, bahkan ada pula yang seperti berteriak keras dengan kalimat "stop pembakaran !"

Photo by Danar Triatmojo and Nyimas Laula when they were on assignment for documentating everyday in haze in Palangkaraya
Berkerut kening saya, apakah orang-orang yang seolah-olah seperti "expert" tersebut tahu benar asal-muasal mengapa kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan ini terjadi berlarut-larut ?


Saya diam saat itu, sebagai sosial media junkie, aneh rasanya untuk saya tidak share atas peristiwa yang sedang hangat-hangat nya di sosial media. Namun, saya diam bukan berarti saya tidak perduli, saya berusaha mencerna atas info-info yang di sebarkan oleh para sosial media users tersebut. Awalnya, saya berpikir bahwa ini pure adalah kesalahan para perusahaan swasta yang membakar hutan demi di tanami kelapa sawit. Saya pun sempat berfikir untuk ikut-ikutan mem-publish daftar perusahaan yang menjadi dalang di balik semua ini.

Sampai akhirnya saya membuka link ini https://www.zenius.net/blog/9767/penyebab-kebakaran-hutan-kabut-asap dan video ini https://www.youtube.com/watch?v=Fc4pqR2UcAI yang membuka pikiran saya bahwa "bukanlah sebuah solusi dengan menyalahkan pihak mana yang salah tanpa mengetahui akar masalah yang sebenarnya". 

"Dear, para sosial media users yang sudah berkoar-koar menyalahkan beberapa pihak atas terjadinya kabut asap di negri ini, sudahkah kamu tahu bahwa Kabut Asap ini terjadi atas sinkronisasi antara alam dan umat manusia ?"
Aktivitas #DammingAction by greenpeace Indonesia

Kenapa kabut asap akibat kebakaran hutan berdampak pada Kalimantan dan Sumatra paling dominan ?

Karena kedua pulau ini memiliki lahan gambut terluas di Indonesia. Lahan gambut yang terdiri dari unsur carbon dan sisa-sisa tumbuhan (akar, daun, ranting, kayu, dan air). Dasarnya, lahan gambut tidak mudah terbakar namun ketika di keringkan, lahan gambut ini akan 10 kali lipat mudah terbakar.

Air yang terkandung dalam lahan gambut ini kemudian di keringkan dengan cara di bangun kanal-kanal oleh para perusahaan produsen kelapa sawit. Tujuannya adalah agar lahan gambut kering, sehingga akan dengan sendirinya terbakar oleh panas nya sinar matahari yang menyengat. Selain secara sengaja di bakar oleh pihak tertentu, lahan gambut juga akan terbakar 3 kali lebih besar dari kebakaran biasa melalui proses alam. Ketika sinar matahari bertemu lahan kering yang hanya mengandung carbon, disanalah akan timbul api yang berasal dari dalam gambut tersebut. Itulah mengapa kebakaran sulit di hentikan walaupun sudah di upayakan dengan menyiram nya. Akan lebih sulit karena api tersebut berada pada dasar lahan gambut.

Lalu, sebenarnya apa tujuan di keringkan nya lahan gambut ini, yap agar lahan gambut mudah terbakar sehingga lahan yang sudah kosong bisa di tanami kebun kelapa sawit. Kebakaran ini sudah terjadi dari tahun 1990-an. Bahkan teman saya yang besar di Samarinda pada tahun 1997 sudah mengalami harus mandi di sungai mahakam.
Desa Paduran, Sebangau, Kalimantan Tengah
"Dear, para sosial media users yang sudah berkoar-koar menyalahkan beberapa pihak atas terjadinya kebakaran asap di negri ini, sudahkah terbesit di pikiran mu bahwa solusi dari masalah kabut asap ini bukan hanya tentang mem-blow up daftar perushaan yang harus di salahkan ?"

Tapi solusi nya juga adalah dengan turut serta memberikan penyuluhan atas asal muasal kabut asap ini terjadi kepada masyarakat lokal dan mengembalikan unsur air tersebut sehingga lahan gambut menjadi kembali utuh.

Rumah panggung di Desa Paduran, Sebangau, Kalimantan Tengah.
Hari ini baru saja saya pulang dari Desa Paduran, Sebangau, Kalimantan Tengah. Selama 5 hari saya  tinggal di desa yang terdaftar sebagai lokasi paling parah akibat kabut asap.  Seems like voluntary work doesn't sound interesting at first but when you know this is gonna be your action to inspire others to protect our forest for the better future. Masih kah kamu bertingkah apatis akan yang terjadi di negri kita sendiri ?
"Kalau dulu sih ikan banyak, sekarang sudah hilang, jadilah banyak warga beralih bekerja di sawit" jelas bapak yang sedang merakit jaring ikan.
Potrait Desa Paduran, Sebangau tanpa haze. Sekarang anak-anak bisa kembali bersekolah dengan normal.
Disini lah teman-teman dari www.greenpeace.or.id ikut bersuara. Bekerja sama dengan Save Our Borneo dan CIMTROP, Greenpeace Indonesia melakukan aksi guna mencegah kembali kebakaran hutan dengan membangun DAM yang di fungsikan untuk memblok kanal. Kanal-kanal yang di buat untuk mengaliri unsur air yang terkandung dalam lahan gambut kemudian di blok dengan upaya air yang keluar akan kembali lagi ke lahan gambut. Ternyata langkah ini sudah pernah dilakukan oleh Pemerintah Jokowi dan pemerintah merasa inilah solusi paling solutif. Namun, proyek ini nyatanya tidak berlangsung. Peran dari Greenpeace disini adalah mendesak Pemerintaan Jokowi untuk kembali merealisasikan pembangunan DAM dengan cara melakukan kembali percontohan di Desa Paduran, Sebangau, Kalimantan Tengah.
Tenda yang di tempati tim green peace selama kurang lebih 16 hari
Proses pembangunan DAM di h-3 selesai

Saya yang terlibat pada seminggu terakhir DAM ini di targetkan selesai ikut turut serta mengetahui proses pembangunan DAM. Selama 5 hari kami menginap di sebuah camp yang sengaja di bangun guna mengawasi proyek hingga selesai.
Bilik yang saya pakai tiap hari untuk mandi
Tenda yang saya dan tim tiduri setiap malam.
WC alam untuk buang air besar.
This is one of the best yet new experience of my life. Ketika setiap hari harus bangun pagi karena matahari yang sudah terlihat terang pada pukul 04.00 pagi di bagian Kalimantan Tengah, tidak mengenal nama toilet, semua aktivitas metabolisme di lakukan langsung ke sungai, setiap hari mandi dengan air masam, tidur di tenda pakai kelambu, transportasi utama menggunakan klotok (mengarungi sungai), beraktivitas di bawah 50 derajat celcius, bertemu hewan liar di habitat aslinya, jalan kepleset dan jeblos sana sini, blending with the locals, and last but not least, i was honorably involved to protect our forest and participated do the actions.

Hutan Terbakar VS Kebun Kelapa Sawit. Ini adalah potrait hutan di Desa Paduran, Sebangau, Kalimantan Tengah. Sekarang yang terlihat hanya sisa terbakar, kering. Dulu mungkin di lahan yang saya injak ini banyak bekantan bergelantungan, orang utan yang bersembungi di balik rindang nya pohon. Seperti yang saya lihat ketika menyusuri alam yang masih sehat di daerah Taman Nasional Sebangau.

Maybe i nearly always share about the beauty of Indonesia. But, i am not blinding my eyes to the sight that hurts our land. And this, this is part of Indonesia that became a barren land ravaged by fiery flames burning on the pearlands several months ago. Do You Know ? Do you care ? - by Rizal Agustin

Please show your concern by submitting the petition to www.kepoitubaik.com. Save our forest, save Indonesia, Let's make a change ! #DammingAction


ps: teks diatas hanyalah sebagian kecil dari apa yang ada di pikiran saya, jika ada pihak yang merasa tersinggung, we are all grown ups and have known that different thoughts are fair. If you have another good point of view, please share with me because i always keep learning and would never be a master.

cheers,
kadekarini


You Might Also Like

0 comments