Pemandangan 10 Juta Dollar dari Mount Rokko, Jepang

5:50:00 AM



Jadi pemandangan ini biasa disebut dengan “View 10 Juta Dollar” kata seorang guide dari JNTO (Japan National Tourism Organization) yang sudah menemani trip Jepang ini hingga hari ke lima. Kenapa bisa jadi disebut view 10 juta dollar ?
 

Faktanya disebut sebagai 10 Million Dollar view karena pemandangannya yang begitu spektakuler dan menakjubkan. Sampai di puncak tertinggi Mount Rokko ketika waktu sudah gelap, jadi yang bisa dilihat saat malam adalah pemandangan lampu berkelap-kelip ala city of stars di film La La Land.
 

Kami menginap di Grand Aki Hotel, it’s the best hotel in Arima. Terimakasih untuk JNTO karena sudah kasih experience ini. Kota-kota Jepang yang berlokasi di dataran tinggi memang selalu identik dengan tradisi Onsen, dan Grand Aki Hotel ini juga memiliki the best onsen facilities. Ada dua macam onsen, outdoor dan indoor. Tapi karena di onsen kita tidak boleh membawa apapun termasuk baju dan pakaian dalam (yes sudah peraturan semua onsen, kalau kita harus telanjang ketika berendam di pemandian onsen), jadi gak bisa foto. Kamar hotel di Grand Aki bentuknya tatami dan ada kimono untuk digunakan pergi ke onsen.


Keesokan paginya, kami datang kembali ke Mount Rokko untuk melihat pemandangan saat day time. Puncak tertinggi Mount Rokko ini berada di 930 mdpl jadi anginya di atas lumayan kencang. Di titik tertinggi, dibuat monumen yang akan berganti warna saat malam, tergantung musim, kalau winter jadi biru, kalau autumn jadi orange, kalau summer jadi hijau. Bangunan utama dari Mount Rokko ini merupakan sebuah toko souvenir dengan beberapa stall makanan di deck nya untuk menemani lihat pemandangan ke kota.



Di Mount Rokko saat winter juga dijadikan area bermain ski, namun karena kami kesana saat bulan November, jadi salju nya belum turun, dan mereka membuat salju palsu yang area nya tidak besar untuk yang mau bermain ski.
 


Sepuluh menit dari Mount Rokko, kita tiba di Music Box Museum. Bukan hanya music box dari Jepang, tapi juga ada music box dari Amerika, Eropa dan belahan negara lainnya. Waktu pertama datang, kita langsung di antar masuk ke ruang konser karena sesuai jadwal sebentar lagi konser akan di mulai. Ruang konser ini tidak terlalu besar, namun terdapat beragam music box dari yang paling tua.


Music box pertama yang dimainkan adalah yang berasal dari Belgia. Semua hening, dan hanya terdengar alunan instrumen beriarama lagu soundtrack Beauty and The Beast. Seketika, bulu tanganku merinding naik. It sounds so magical. Bentuk disc muskinya lebih besar dari piringan hitam vinyl dan normalnya satu disc besar ini berdurasi 3-5 menit untuk satu lagu.
 

Sang kolektor, Naoki Shibata yang memainkan sendiri music box nya. Setelah konser, ia pun mengajak kita ke bagian museum dimana lebih banyak lagi koleksi music box nya. Music box nya di dapat dari berbagai dunia dan beragam harga sampai seharga 10 juta yen. Naoki pun mengatakan, beliau jatuh cinta dengan alunan musik asli dan low beat, itulah sebabnya ia mulai mengumpulkan music box.
 

Di Music box museum ini juga menjual music box untuk souvenir dengan berbagai macam bentuk. Kami pun mendapat kesempatan untuk membuat sendiri music box kami yang ternyata tidak mudah.



Langkah pertama adalah memilih lagu, kemudian kita akan masuk ke studio untuk merangkai mesin musiknya ke dalam rumah nya.
 
 
Bagian tersulit menurutku adalah memasang mesin karena harus tepat kalau terlalu kendur bunyi nya tidak akan terdengar indah. Dan jadilah music box buatanku yang bisa aku bawa pulang sendiri ke Indonesia.
 

cheers,
Kadek Arini

FOLLOW ME ON
Instagram : @kadekarini
YouTube : Kadekarini

You Might Also Like

0 comments